I’m in Banda Atjeh
November 9th, 2007 by di-mustBisa sampe menginjakan kaki di propinsi paling barat di Indonesia, bener-bener tidak terpirkan oleh ku..blum lagi perjalanan penuh intrik yang kulalui sampe tiba di sini….tiba di bandara Sultan Iskandar Muda sudah disuguhi kenyataan bahwa bandara tersebut tidak lebih besar dari stasiun Tugu Yogyakarta…tidak ada ruangan kedatangan yang besar ber-AC,atau petugas bandara yang ramah…hanya sebuah ruangan kecil dengan kipas angin,2 toilet kecil berkapasitas 1 orang dan 2 petugas yang mengambil tanda bagasi…
butuh sekitar setengah jam dari bandara menuju Maulana Yahya Consulting yang akan menjadi kantor plus tempat bermalamku selama di Aceh..tiba di kantor kupikir akan langsung disambut oleh suasana kehidupan orang2 Aceh…tapi ternyata tidak jauh beda seperti suasana di Burjo (warung khas anak kost di jogja dengan menu andalan indomie telor yang biasanya dilayani oleh orang2 Sunda)…ternyata sebagian besar sebangsa dengan ghulam semua….
Malam pertama aku lalui dengan kegerahan dan berkenalan dengan nyamuk2 di kantor,dan aku menyadari maksud kata ghulam “mas,lo bawa bantal dari jogja”…pagi ini kita akan presentasi kerjaan di depan perwakilan BRR Aceh,Dinas Kesehatan,Dinas Sosisal,Dinas Pendidikan dan BPDE…giliran Ghulam untuk menunjukan mekanisme pemakaian software SitKessSos-E Aceh di depan mereka…sebenarnya presentasinya lancar dan nda ada masalah….tapi kalo aku pribadi ada satu hal yang membuat aku pengen ketawa…saat dia mencotohkan penggunaan Smart Card yang didalamnya telah disimpan identitas dirinya…di layar muncul Nama : Onta Imaduddin…huaaaa kerjaannya gus de..mengganti kata Ghulam menjadi Onta (saudara deketnya Ghulam)…aku nda bisa bayangkan kalo tu ruangan penuh dengan anak2 kost + temen2 Baramedia + ilkomp…pasti pada nyalami Ghulam satu persatu karena dengan sukses mempermalukan dirinya sendiri…
Sore hari, selesai acara di Sulthan Hotel, gara2 nunggu mobil jemputan yang lama…akhirnya Edi ngajakin naek becak Aceh yang bermesin atau Beli-Beli…ak penasaran gimana caranya naek becak bertiga?….ternyata ak dan ghulam duduk di kursi penumpang selayaknya,dan Edi duduk di besi yang melintang di depan kami dan sukses mengangkang di hadapan aku dan ghulam…berusaha tidak mempedulikan gaya Edi yang provokatif, aku menyibukkan diri untuk memotret jalanan Banda Aceh n Mesjid Raya nya….tib2a blitz ku nyala…Edi kaget “Waduh saya kira ada petir” …tentu saja masih setia dengan gayanya…